Jumat, 09 Desember 2011

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dikotomi pendidikan sampai hari ini masih menjadi bagian dari Diskursus bagi para pemerhati, tokoh dan masyarakat pendidikan. Pembagian ruang antara pendidikan berperspektif umum dengan pendidikan berbasis agama (Islam). Padahal dalam sebuah proses pendidikan diperlukan adanya integrasi antara pendidikan yang kemudian dikatakan umum dengan pendidikan yang berbasis agama. Dinamisasi pendidikan merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu dan kajian diseluruh komponen pendidikan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya transfer of knowledge dan transfer of value.
Integrasi pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembagan masyarakat tersebut. Karena pendidikan merupakan upaya mentransformasikan dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus. Demikian pula dengan peranan pendidikan Islam dikalangan umat Islam merupakan salah satu bentuk manifestasi dari cita-cita hidup Islam untuk melestarikan, mengalihkan dan menanamkan (menginternalisasikan) dan mentransformasikan nilai-nilai Islam tersebut kepada pribadi generasi penerusnya sehingga nilai-nilai kultural religius yang dicita-citakan dapat tetap berfungsi dan berkembang dalam masyarakat dari waktu ke waktu.[1]
Apabila dilihat dari segi kehidupan kultural umat manusia, pendidikan Islam merupakan salah satu alat pembudayaan (enkulturasi) masyarakat manusia itu sendiri sebagai suatu alat pendidikan yang dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai mahluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejahteraan hidup didunia dan kebahagiaan hidupnya diakhirat. Maka dalam hal ini, kedayagunaan pendidikan sebagai alat pembudayaan sangat bergantung pada pemegang alat tersebut yaitu para pendidik. Dengan demikian maka para pendidik memegang posisi kunci yang banyak menentukan keberhasilan proses pendidikan sehingga mereka dituntut persyaratan tertentu baik teoritis maupun praktis dalam pelaksaan tugasnya.[2]
Proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan Islam sebagai suatu sistem nilai, menjadi pegangan hidup bagi setiap peserta didik. Selanjutnya menjadi rujukan dan menjadi bagian kepribadian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.[3]
Tujuan ini tentunya tidak hanya dalam aspek kognitif saja bahkan yang lebih penting lagi adalah aspek afektif dan psikomotornya. Seluruh aspek yang terdapat dalam diri peserta didik harus dipenuhi oleh nilai-nilai Islam untuk mencapai tujuan utama penyelenggaraan pendidikan Islam, menjadi manusia yang sempurna.[4]
Untuk mewujudkan internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam, maka seyogyanya segala daya upaya dilakukan, melalui penggunaan sumber belajar yang memadai dan sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat. Sumber belajar yang dapat digunakan adalah sumber bacaan, meliputi buku, majalah, novel, koran, manuskrip dan sebagainya. Salah satu sumber bacaan yang dapat digunakan adalah novel. Maka kaitannya dengan ini, untuk memahami sebuah karya sastra (novel), paling tidak diperlukan tiga hal, yaitu interpretasi atau penafsiran, analisis atau penguraian dan evaluasi atau penilaian.[5]
Satu hal yang melandasi novel dimasukan sebagai media belajar adalah isi novel yang berupa cerita, yang memuat kisah-kisah yang menarik, ringan, menghibur dan mendidik. Novel mampu mengikat dan menarik perhatian pembaca tanpa memakan waktu lama, menyentuh nurani manusia dalam keadaannya yang utuh, menyeluruh, mendidik perasaan ketuhanan. Novel yang menarik juga memberikan kesempatan mengembangkan pola pikir bagi yang membacanya.[6]
Cerita atau kisah dalam sebuah novel mempunyai fungsi edukasi yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa. Sebagaimana kisah dalam al-Quran dan kisah nabawi yang memiliki keistimewaan merubah aspek psikologis pada seseorang. Disamping itu, kisah edukatif dapat melahirkan kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktivitas didalam jiwa, yang selanjutnya memotivasi manusia untuk mengubah perilakunya dan memperbaharui tekadnya sesuai  dengan tuntutan, perjalanan dan akhir kisah serta pengambilan pelajaran dari isi novel tersebut.[7]
Belakangan ini dunia pendidikan telah dihadapkan oleh pemandangan baru, dimana peserta didik tidak harus bertemu gurunya. Untuk mendapatkan ilmu, dia cukup menghadap komputer yang tersambung dengan sistem internet. Fenomena lain juga terlihat dari buku novel yang semakin digemari dan menjadi bahan referensi di masyarakat. Novel Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan sebagainya telah menjadi sumber rujukan dalam memotivasi untuk mencari ilmu. Menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam mentransfer nilai-nilai pendidikan Islam bagi siapa saja yang dapat membaca dan mengilhaminya terutama bagi peserta didik.
Novel fenomenal Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan hasil karya emas anak bangsa. Salah satu karya monumental bagi dunia sastra dan kepenulisan yang mengajak generasi sekarang untuk membangun peradaban bangsanya. Kaitannya dengan dunia pendidikan yang menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian seseorang (personal development) dan menanamkan rasa tanggung jawab kepada yang membacanya. Tentunya tidak semua novel bisa menjadi media pendidikan. Novel yang menjadi media pendidikan adalah novel yang memuat nilai-nilai cerita yang mendidik manusia secara menyeluruh. Sedangkan cerita yang baik adalah cerita yang mampu mendidik akal budi, imajinasi dan etika seorang anak serta mengembangkan potensi pengetahuan yang dimiliki.[8]
Novel pertama Andrea Hirata, Laskar Pelangi, telah berkembang bukan hanya sebagai bacaan sastra, namun sebagai referensi ilmiah. Novel ini banyak dirujuk untuk penulisan skripsi, tesis dan telah diseminarkan oleh birokrat untuk menyusun rekomendasi kebijakan pendidikan.[9]
Novel Laskar Pelangi menjadi sebuah karya fenomenal. Kehadirannya begitu memukau di semua kalangan. Masyarakat begitu antusias untuk membacanya. Pesan moralnya begitu kuat, paling tidak ada tiga hal besar pesan pentingnya, yaitu rasa optimisme, semangat belajar dan semangat mengejar cita-cita. Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menggambarkan sekelumit sisi lain (yang ironis) dari dunia pendidikan di Indonesia. Berisikan tentang memoar masa kecil Andrea Hirata.  
Pada tahun 1970-an di tanah Bangka Belitung yang kaya dengan tambang timah dan di tengah-tengah hingar-bingar karyawan penambangan timah, berdiri sebuah Sekolah Dasar (SD) yang reot dan miskin, yaitu SD Muhammadiyah Gantong. Kemiskinan itu dilatarbelakangi oleh para siswanya yang mempunyai background keluarga kelas bawah. Meski demikian, para pendidiknya (Pak Harfan dan Ibu Muslimah) berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan eksistensi sekolahnya. Mereka beranggapan bahwa sekolah tersebut adalah warisan luhur yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Karena sekolah ini, adalah satu-satunya (di tanah Belitong) yang mengajarkan  antara ilmu dan agama.
Dengan segala keterbatasan, Sekolah Dasar tersebut ternyata mempunyai para siswa yang pintar dan penuh dengan bakat. Misalnya, Lintang yang cerdas dalam ilmu matematika dan Mahar yang berbakat dalam bidang seni. Keduanya membawa nama harum sekolah, saat mereka menjadi juara I (satu) dalam kompetisi cerdas cermat antar Sekolah Dasar se kecamatan. Hanya saja, kecerdasan mereka tak bisa tersalurkan dengan baik dan memaksa mereka untuk putus sekolah. Karena himpitan hidup keluarga yang menuntut mereka untuk bekerja membantu perekonomian keluarga.
Perjuangan para pendidik dan para siswa dalam mempertahankan eksistensi Sekolah Dasar mereka memang luar biasa. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, mereka mampu mengantarkan dan melahirkan generasi muda yang tidak mudah untuk menyerah, selalu optimis dalam mengejar cita-cita. Terbukti, Andrea Hirata sebagai mantan siswa SD Muhammadiyah Gantong telah menjadi seseorang yang berhasil dan sukses meraih mimpi dan cita-citanya. Sekelumit penggalan cerita di atas, mendeskripsikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan hidup yang terangkum dalam memoar Novel Laskar Pelangi memberikan inspirasi, makna dan nilai, terutama nilai-nilai pendidikan Islam.
Penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini, bagaimana melakukan eksplorasi atas kandungan nilai-nilai pendidikan Islam. Apabila dilihat dari deskripsi cerita dalam Novel Laskar Pelangi, penuh dengan perjalanan proses pendidikan anak bangsa yang sungguh memprihatinkan. Mengedepankan keikhlasan dalam segala keterbatasan, sabar menghadapi persaingan yang semakin maju. Namun dengan semangat para pelaku didalamnya, baik dari guru maupun siswa (yang disebut sebagai Laskar Pelangi) mampu membangun diri dan nama baik sekolah, serta berhasil membawa perubahan bagi masa depan anak didiknya. Disisi lain, penulis novel mampu menggambarkan sebuah realitas kehidupan masyarakat Belitong, hidup dibawah garis kemiskinan yang mempunyai kemauan untuk belajar.
Novel Laskar Pelangi mempunyai power yang menghembuskan nilai-nilai pendidikan Islam. Sebagaimana Andrea Hirata mampu mendeskripsikan pesan moral dan sosial tentang realitas pendidikan yang terjadi pada zamannya. Sehingga dalam kaitannya dengan cerita itu, dapat diambil sebuah analisis tentang kandungan nilai-nilai pendidikan Islam dalam Novel Laskar Pelangi. Dalam hal ini, penulis berinisiasi untuk melakukan penelitian yang bersifat analitik tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam Novel Laskar Pelangi.

B.     Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran judul diatas dan agar mudah dimengerti maksudnya, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan istilah-istilah dan batasan-batasan yang ada pada judul proposal skripsi yang penulis susun. Adapun istilah yang dimaksud adalah:
1.      Nilai Pendidikan Islam
Untuk dapat mengungkapkan pengertian nilai pendidikan Islam kami mencoba mengartikan nilai dan pendidikan Islam. Nilai adalah kadar, mutu, sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.[10]
Menurut Milton Rokeach dan James Bank yang dikutip oleh H. Una, menjelaskan bahwa “nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup kepercayaan dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan atau mengenai sesuatu yang pantas dan tidak pantas untuk dikerjakan”.[11]
Pendidikan Islam adalah proses bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengaasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.[12]
Pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan  cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi diantara sekian banyak profesi dalam masyarakat.[13]
Nilai yang dimaksud dalam pendidikan Islam adalah sesuatu yang berkenaan dengan identitas yang khusus dalam ajaran Islam. Sebagaimana diungkap Zakiah Daradjat bahwa nilai pendidikan Islam adalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberi corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku.[14]
Jadi, Nilai Pendidikan Islam yang dimaksud penulis adalah muatan yang mengandung taksiran sebagai proses bimbingan untuk mengubah peserta didik terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut Islam dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi yang sesuai dengan ajaran Islam.
2.      Novel Laskar Pelangi
Novel Laskar Pelangi merupakan novel karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka tahun 2005 dan merupakan novel paling fenomenal karya anak bangsa dalam sejarah sastra Indonesia. Sejak diterbitkan September 2005 , novel itu sudah naik cetak hingga 17 kali dan terjual sekitar 200 ribu eksemplar.
3.      Andrea Hirata
Andrea Hirata adalah seorang penulis sastra yang tidak dihitung sebelumnya, lahir pada 24 Oktober di Belitong. Penulis Novel Laskar Pelangi ini, mengangkat memoar masa kecilnya ketika masih sekolah di sebuah SD di Belitong. Hasil karya sastranya sukses dan fenomenal. Sekarang selain menjadi seorang penulis, dia juga menjadi salah satu pegawai Telkom Pusat di Bandung. Lulusan Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris. Tesis Andrea Hirata di bidang telekomunikasi ekonomi mendapat penghargaan dari dua universitas tersebut dan kembali lulus dengan hasil cumlaude.  
Dari definisi operasional tersebut, maka yang dimaksud dengan judul Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Novel Laskar Pelangi adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk menemukan Nilai-Nilai Pendidikan Islam yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi.

C.    Rumusan Masalah
Apa saja Nilai-Nilai Pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai pemikiran Andrea Hirata dalam Novel Laskar Pelangi.
b.      Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.
2.      Manfaat Penelitian
a.       Secara akademik dapat menambah referensi bagi mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan Perpustakaan STAIN Purwokerto.
b.      Menambah pengalaman dan ilmu bagi penulis dan pihak lain mengenai nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.
c.       Menampilkan cakrawala akan pentingnya karya yang mencoba memberikan penyadaran akan pentingnya karya sastra bagi pelaku pendidikan yang selama ini masih asing dengan karya sastra sebagai media pendidikan.

E.     Tinjauan Pustaka
Nilai dalam pandangan Brubacher, tak terbatas ruang lingkupnya. Nilai tersebut sangat erat dengan pengertian-pengertian dan aktivitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasannya. Dalam ensiklopedi Britannica dikatakan bahwa: “value is a determination or quality of an object which involves any sort or apriciation or interest”. Nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.[15]
Sidi Gazalba mendefinisikan nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkret bukan fakto, tidak hanya persoalan benar salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki yang disenangi yang tidak disenangi.[16] 
Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.[17]
Pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.[18]
Novel dalam bahasa Inggris dan ilmiah yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Italia Novella (yang dalam bahasa Jerman Novelle) secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil cerita pendek dalam bentuk prosa, dewasa ini istilah Novella dan Novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia Novelle (Inggris : novellet) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek.[19] 
Disadari atau tidak, banyak nilai-nilai Islam yang terkandung di dalam Novel Laskar Pelangi: 1) Melihat sosok Ibu Muslimah yang dengan ikhlas berjuang mendidik dan memajukan SD Muhammadiyah yang tertinggal dengan sekolah lain. 2) Ketundukan kepada Sang Khalik, ketika Ibu Muslimah menanamkan dasar-dasar moral ke-Islaman, menggali nilai-nilai luhur dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. 3) Gambaran tentang kesabaran, dengan kondisi yang serba kekurangan dengan imbalan tak seberapa yang didapat setiap bulannya oleh Ibu Muslimah. Kesabaran anak-anak Laskar Pelangi untuk hidup dalam keterbatasan secara financial. 4) Islam mengajarkan carilah ilmu sampai ke negeri Cina dan menuntut ilmu dari ayunan sampai liang lahat. 5) Optimis dalam menjalani hidup meraih cita-cita.[20]
Menurut hasil penelitian saudari Ririh Yuli Atminingsih bahwa nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi, yaitu: iman, syukur, taqwa, ikhlas, tawakal, sabar, berfikir positif, disiplin, menjadi contoh yang baik, tekad kuat dan kerja keras, mendahulukan kewajiban terhadap orang tua dibandingkan hak, beradaptasi dan bersikap baik terhadap lingkungan, membantu meringankan beban orang tua, silaturahmi, tidak merendahkan golongan lain, baik sangka rendah hati, menepati janji, lapang dada, dan dapat dipercaya. Selain itu, pemanfaatan novel Laskar Pelangi dalam pembelajaran novel di SMA, yaitu: membantu keterampilan dalam berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak.[21]
Kemudian hasil penelitian Saudari Aldila Novrinda menunjukan bahwa wacana yang ingin disampaikan melalui teks-teks novel adalah nilai-nilai pendidikan yang digambarkan paling penting kaitannya dengan pendidikan karakter sebagai basic values, utamanya melalui karakteristik budaya Belitong. Nilai-nilai pendidikan yang diangkat dalam novel Laskar Pelangi adalah seperti nilai keutamaan, nilai kecintaan tanah air, nilai kemanusiaan, bahkan wacana agamis menjadi satu unsur tambahan yang menjadikan novel Laskar Pelangi sebagai salah satu acuan tentang bagaimana nilai.[22]
Dalam skripsi Saudari Ngafiyah yang berjudul Manifestasi Cinta dalam Perspektif Pendidikan Akhlak (Studi Analisis Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El-Shirazy) STAIN Purwokerto tahun 2008, digambarkan bahwa novel sebagai media pendidikan memberikan pemahaman tentang bagaimana manifestasi cinta yang terdapat dalam novel ayat-ayat cinta yaitu di wujudkan dalam bentuk cinta kepada Allah, cinta kepada rasul, cinta keibuan, cinta diri, cinta persahabatan serta cinta erotik. Sedangkan relevansi manifestasi cinta dalam novel ayat-ayat cinta dengan pendidikan akhlak adalah bahwa cinta kepada Allah, cinta kepada rasul, cinta keibuan, cinta diri, cinta persahabatan, serta cinta erotik di arahkan untuk beribadah kepada Allah semata sehingga menjadi manusia sempurna.[23]     
Pada hasil penelitian skripsi Afifah Nur Hidayah yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Lagu Anak-Anak Islam Ciptaan AT Mahmud STAIN Purwokerto tahun 2008, menjelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam lagu anak-anak Islam ciptaan AT Mahmud yaitu nilai akhlak, nilai keimanan, nilai ibadah. Dalam wawancara dengan AT Mahmud pada tanggal 26 Juni 2008, menjelaskan bahwa nilai yang terkandung dalam lagu anak-anak Islam yaitu sebagian besar adalah nilai akhlak.[24]
Penulis menyadari bahwa penelitian tentang novel telah banyak dilakukan, bahkan terjadi sedikit persamaan penelitian tersebut yaitu mengungkap nilai-nilai pendidikan dan nilai-nilai Islam yang ada dalam novel Laskar Pelangi. Namun demikian, melihat latarbelakang yang penulis angkat berbeda. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus utama penelitian adalah apa saja nilai-nilai pendidikan Islam dan bagaimana analisis nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi.
Secara mendasar penelitian tentang Novel Laskar Pelangi di lingkungan akademis STAIN Purwokerto belum pernah dilakukan, khususnya yang berkenaan dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi. Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah bagaimana melakukan eksplorasi atas kandungan nilai-nilai pendidikan Islam. Novel Laskar Pelangi mampu memberikan inspirasi bagi jutaan pembaca, karena menceritakan tentang pendidikan anak bangsa, semangat para pelaku didalamnya, baik dari guru maupun siswa yang hidup dibawah garis kemiskinan akan tetapi mempunyai semangat belajar untuk perubahan masa depannya.


    
F.     Metode Penelitian
1.      Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka atau Library Research. Adapun yang dimaksud penelitian pustaka adalah menjadikan bahan pustaka berupa buku, majalah ilmiah, dokumen-dokumen dan materi lainnya yang dapat dijadikan sumber rujukan dalam penelitian ini.[25]
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan melakukan kategorisasi yang kemudian diinterpretasikan secara deskriptif-analisis (menggambarkan terhadap data yang telah terkumpul kemudian memilih dan memilah data yang diperlukan yang sesuai dengan pembahasan dalam penelitian ini).
Pendekatan kualitatif disini merupakan suatu pendekatan dengan menggunakan data non angka atau berupa dokumen-dokumen manuskrip maupun pemikiran-pemikiran yang ada dimana dari data tersebut kemudian dikategorikan berdasarkan relevansinya dengan pokok permasalahan yang dikaji.
2.      Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.
3.      Sumber Data
Penelitian pustaka maksudnya adalah menjadikan bahan pustaka sebagai sumber data pustaka (primer) dan buku-buku lain sebagai pendukung yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dihadapi (sekunder). Adapun sumber data itu sebagai berikut:
a.       Sumber Primer
Sumber Primer dalam penilitian ini adalah sumber asli baik berbentuk dokumen maupun peninggalan lainnya.[26] Dalam hal ini data diperoleh secara langsung dari objek penelitian yaitu nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi, sumber primernya adalah:
1.      Andrea Hirata, Novel Laskar Pelangi, Yogyakarta: Bentang, 2008.
2.      Andrea Hirata, Sang Pemimpi, Yogyakarta: Bentang, 2008.
3.      Karni S. Asrori, The Phenomenon, Jakarta: Mizan Publika, 2008.
4.      Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998.
5.      Suminto A. Sayuti, Berkenalan dengan Prosa Fiksi, Yogyakarta: Gama Media, 2000.
b.      Sumber Sekunder
Sumber sekunder merupakan hasil penggunaan sumber-sumber lain yang tidak langsung dan sebagai dokumen yang murni ditinjau dari kebutuhan peneliti.[27] Sumber sekundernya adalah:
1.      Al-Syaibany, Oemar Muhammad, Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
2.      Ali Zainudin, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
3.      Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Terj), Jakarta: Pustaka Amani, 1999.
4.      Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2007.
5.      Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
6.      Ahmad tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
7.      Abdurrahman an-nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung: IKAPI, 1989
8.      D, Marimba Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1964.

9.      Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan Islam, Jakarta: Alkhusna Zikra, 1988.
10.  Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
11.  Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah (Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer), Yogyakarta: UII Press, 2003.

12.  M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
13.  Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Mayarakat, Yogyakarta: LKIS, 2009.
14.   Muhammad Ghoni Djunaedi, Nilai Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
15.  Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Trigenda Karya, 1993.
16.  Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, Bandung: PT. Al-Maarif, 1993.
17.  Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya. 1994.
18.  Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
4.      Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah mengumpulkan data-data berupa tulisan yang relevan dengan permasalahan fokus penelitian.[28] Metode ini dilakukan dengan cara mencari dan menghimpun bahan-bahan pustaka berupa catatan transkrip, buku, agenda, surat kabar, majalah dan lain sebagainya, untuk ditelaah isi tulisan terkait dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.
5.      Analisis Datas
Analisis data merupakan penguraian atas data hingga menghasilkan kesimpulan. Adapun metode analisis data yang dipakai untuk menganalisis pembahasan ini adalah metode analisis kualitatif dengan menggunakan analisis isi (content analysis). Metode ini digunakan untuk mengetahui prinsip-prinsip dari suatu konsep untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif-sistematis tentang suatu teks.[29]
Dalam penelitian ini juga menggunakan analisis komparatif yaitu suatu usaha untuk mencari pemecahan masalah melalui analisa tentang hubungan sebab akibat, yaitu meneliti faktor-faktor terentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan dengan faktor-faktor lain.[30]
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua macam alur berfikir yaitu:
a.       Metode Berfikir Deduktif yaitu metode yang dapat digunakan untuk menganalisa kebenaran umum mengenai suatu fenomena atau fakta-fakta dan menggeneralisasikan kebenaran tersebut untuk mengambil kesimpulan yang bersifat khusus.[31] Artinya peneliti menggali data yang bersifat umum seperti dalil tentang metode pendidikan kemudian dikaji lagi secara khusus.
b.      Metode Berfikir Induktif yaitu metode berfikir yang dapat digunakan untuk menganalisa masalah atau fenomena yang bersifat khusus untuk mengambil kesimpulan yang bersifat umum.[32]

G.    Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis membuat sistematika penulisan yang tergambar pada skripsi dan paparan di bawah ini, untuk mempermudah dalam membaca sehingga lebih sistematis dan tidak terdapat atau terhindar dari kerancuan kaidah sistematika penulisan skripsi.
Bagian awal skripsi ini berisi halaman judul, pernyataan keaslian skripsi penulis, nota dinas pembimbing, halaman pengesahan, halaman moto, halaman persembahan, halaman kata pengantar dan daftar isi yang menerangkan isi skripsi secara keseluruhan.
Pada bab pertama membahas tentang pokok-pokok pikiran dasar yang menjadi landasan bagi pembahasan selanjutnya. Dalam bab ini tergambar langkah-langkah penulisan awal dalam skripsi yang dapat mengantarkan pada pembahasan berikutnya yang terdiri dari: latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Kemudian pada bab kedua memuat tentang landasan teori yang meliputi: nilai-nilai pendidikan Islam dan novel sebagai karya sastra, berisikan: nilai-nilai pendidikan Islam meliputi: pengertian nilai, kriteria nilai-nilai pendidikan Islam, bentuk nilai-nilai pendidikan Islam dan metode penanaman nilai-nilai pendidikan Islam. Selanjutnya novel sebagai karya sastra meliputi: pengertian novel, fungsi-fungsi novel, macam-macam novel, unsur-unsur novel.
Pada bab ketiga membahas tentang novel laskar pelangi yang meliputi: sinopsis Novel Laskar Pelangi, biografi penulis Novel Laskar Pelangi, paradigma pemikiran Andrea Hirata, fenomenologi Novel Laskar Pelangi.
Kemudian bab keempat membahas tentang hasil dari penelitian terkait dengan kandungan nilai-nilai pendidikan Islam dalam Novel Laskar Pelangi yang menyangkut: macam-macam nilai-nilai pendidikan Islam dalam Novel Laskar Pelangi, keunggulan dan kelemahan Novel Laskar Pelangi.
Terakhir yaitu bab kelima, memuat tentang penutup. Pada bab ini merupakan bab terakhir yang berisikan tentang: kesimpulan, saran-saran penulis dan kata penutup.



[1] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan  Pendekatan  Interdisipliner), ( Jakarta: Bumi Aksara, 1991),  hlm. 11.
[2] Ibid, hlm. 12.
[3] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 146.
[4] Mustofa Rahman, Abdullah Nasih Ulwan Pendidikan Nilai dalam Pemikiran Islam Kontemporer, (Pengantar Mulyadi Kartanegara), (Yogyakarta: Jendela, 2003), hlm. 33.
[5] Suminto A Sayuti, Berkenalan dengan Prosa Fiksi, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 5.
[6] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam, (Bandung: IKAPI, 1989), hlm. 32-35.
[7] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Metode, hlm. 331.
[8] Abdul Aziz dan Abdul Majid, Mendidik dengan Cerita, Terj.Syarif Hade Masyah Makhfud Lukman Hakim, (Mastakim:  2003), hlm. 12-13.
[9] Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: Bentang, 2008), hlm. 533.
[10] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hlm. 677.
[11] Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),  hlm. 60.
[12] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 14-15.
[13] Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 399.
[14] Sebagaimana dikutip oleh Afiyati, dalam Metode Penanaman Nilai Agama Pada Anak Prasekolah, (Purwokerto: Skripsi STAIN Purwokerto, 2004), hlm. 41.
[15] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 109.
[16] Chabib Thoha, Kapita Selekta, hlm. 61.
[17] D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1964), hlm. 23.
[18] Muhaimin & Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan, hlm. 136.
[19] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press, 1988), hlm. 10.
[20] Disarikan dari http://Kampoeng Kedah-Untaian Ayat dari Laskar Pelangi.com, diakses tanggal 29 April 2009.
[21] Disarikan dari http://digilid.uns.ac.id, diakses tanggal 10 Mei 2009.
[22] http://adln.lib.unair.ac.id, diakses tanggal 11 Mei 2009.
[23] Ngafiyah, Manifestasi Cinta dalam Perspektif Pendidikan Akhlak (Studi Analisis Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El-Shirazy), (Purwokerto: Skripsi STAIN Purwokerto, 2008), hlm. 97.
[24] Afifah Nur Hidayah, Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Lagu Anak-Anak Islam Ciptaan AT Mahmud, (Purwokerto: Skripsi STAIN Purwokerto, 2008), hlm. 77-79.
[25] Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), hlm. 9.
[26] Winarno Surakhmad, Pengantar Ilmiah: Dasar, Metode dan Teknik, (Bandung: Tarsito, 1994), hlm. 134.
[27] Ibid, hlm. 134.
[28] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rajawali, 2002), hlm. 135.
[29] Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif , (Jakarta: Grasindo, 1996), hlm. 44.
[30] Winarno Surakhmad, Pengantar Ilmiah: Dasar, hlm. 143.
[31] Saefudin Azhar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 40.
[32] Saefudin Azhar, Metode Penelitan,  hlm. 40.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar