Jumat, 09 Desember 2011

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SD NEGERI PADAWENING DI DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH (DTA) NURUL AMANAH DTA MIFTAHUS SA’ADAH, DAN DTA AL-ITTIHAD KABUPATEN TASIKMALAYA


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
            Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan nasional yang sangat penting, sebab salah satu tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor. 20 Tahun 2003 BAB. II Pasal 3 yang berbunyi:
        Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta        didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan       Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,          mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung    jawab. (UU SISDIKNAS 2003 : 12)

            Demi mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, di Indonesia pendidikan agama mendapatkan perhatian dan memegang peranaan yang sangat penting.  Hal ini terbukti dengan dimasukannya pendidikan agama kedalam kurikulum nasional yang wajib diikuti oleh semua peserta didik mulai tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi (Zuhairini dkk, 1993 : 19).
1
 
            Akan tetapi dalam pelaksanaanya, meskipun Pendidikan Agama Islam (PAI) telah dimasukkan kedalam kurikulum nasional sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional, Pendidikan Agama Islam di sekolah umum masih jauh dari keberhasilan.  Menurut beberapa pendapat sebagaimana dikutip Abdul Majid dan Dian Andayani (2005:165) mengemukakan bahwa:
1.      Hasil-hasil PAI di sekolah belum sesuai dengan tujuan-tujuan Pendidikan Agama Islam (Mimbar pendidikan, No 1 tahun 2000)
2.      Sudijarto (1999:3) : Pendidikan nasional belum sepenunya mampu mengembangkan manusia Indonesia yang religius, berakhlak, berwatak kesatria dan patriorik
3.      Nurcholis Majid : kegagalan pendidikan agama disebabkan pembelajaran pendidikan Agama Islam lebih menitik beratkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya, (Pikiran Rakyat 30 juni 2003)
4.      Arief Rahman : Pendidikan kita lebih banyak menekankan pada kemampuan berbahasa (verbal) dan kemampuan menghitung (numerik), sementara kemampuan mengendalikan diri dan penanaman keimanan diabaikan, (Pikiran Rakyat 25 November 2000)
5.      Karo Hukum dan Humas Depag. RI mengutip pernyataan Presiden RI menyatakan bahwa : Pendidikan Agama belum berhasil dengan baik, salah satu indikatornya adalah masih banyaknya kejadian perkelahian antar pelajar terutama di Jakarta, (Pikiran Rakyat,28/1997)
6.      Husni Rahim : Penyampaian materi akhlak di sekolah oleh guru-guru yang diberikan kepada siswa hanya sebatas teori, padahal yang diperlukan adalah suasana keagamaan (Republika, 18/2000)
7.      Malik Fajar (1998:9) menyatakan bahwa : proses belajar mengajar sampai saat ini hanya sekedar mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan
8.      Mentri Agama (Said Agil Munawar) bahwa pendidikan agama Islam di sekolah mengalami masalah metodologi (Pikiran Rakyat, 2003:9)

Selanjutnya Abdul Majid dan Dian Andayani (2005:171) mengemukakan bahwa rendahnya kualitas Pendidikan Agama Islam sebagaimana pendapat diatas, disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
  1. Kualitas dan kuantitas kompetensi guru agama yang masih rendah
  2. Proses belajar mengajar sampai saat ini hanya sekedar mengejar target pencapaian kurikulum
  3. Pembelajaran PAI yang bukan diarahkan pada penguasaan dan pencapaian kompetensi, melainkan hanya terfokus pada aspek kognitif saja
  4. Alokasi waktu yang tersedia sangat sedikit sedangkan muatan materi sangat padat
  5. Terbatasnya sarana dan prasarana
  6. Penilaian hanya terfokus pada aspek kognitif.
Sedangkan menurut Ahmad Ludjito (1998:5) yang menjadi masalah Pendidikan Agama Islam di sekolah umum diantaranya: (1). kurangnya jumlah jam pelajaran, (2). metodologi pendidikan agama yang kurang tepat, (3). adanya dikotomi antara pendidikan agama (madrasah) dengan pendidikan umum, (4). heterogenitas pengetahuan dan penghayatan agama peserta didik, (5). kurangnya perhatian serta kepedulian pimpinan sekolah dan guru-guru.
            Problem dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum atau antara ilmu agama dan ilmu umum sejak lama dan sampai sekarang masih berlangsung.  Secara simbolik, dikotomi jenis keilmuan ini masih terlihat dengan jelas antara madrasah dan sekolah umum.  Di madrasah, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dibagi kedalam beberapa sub mata pelajaran, yaitu Al-Quran Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Bahasa Arab, yang masing-masing berdiri sendiri sebagai mata pelajaran.  Sedangkan disekolah umum, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang disebutkan diatas digabungkan menjadi satu, dengan porsinya hanya dua jam pelajaran setiap minggu.
            Terkait dengan permasalahan diatas, SD Negeri Padawening merupakan salah satu Sekolah Dasar yang memiliki permasalahan sebagaimana diuraikan diatas.  Namun dalam hal ini, SD Negeri Padawening selalu berupaya agar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah dapat dilaksanakan sebaik mungkin guna mencapai tujuan yang diharapkan meskipun dengan keterbatasan jumlah jam pelajaran dan tenaga pengajar yang ada.
Salah satu upaya yang dilakukan SD Negeri Padawening ini adalah bekerjasama dengan orang tua siswa serta masyarakat sekitar dengan cara mewajibkan seluruh peserta didiknya untuk mengikuti pendidikan agama di lembaga  pendidikan non formal.  Untuk kelas I (satu) dan kelas II (dua) masuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), sedangkan untuk kelas III (tiga) sampai kelas VI (enam) masuk Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang ada dilingkungan masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, melalui pengawasan sekolah khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), orang tua siswa dan masyarakat, setiap siswa kelas III (tiga) sampai kelas VI (enam) yang belajar di Sekolah Dasar Negeri Padawening setelah pulang sekolah harus mengikuti pendidikan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang ada di lingkungan masyarakat setempat. (Wawancara dan observasi pendahuluan pada tanggal 22 Mei-26 Mei 2009).
Upaya tersebut dilakukan karena selain waktu dan tenaga pengajar pendidikan agama di sekolah sangat terbatas, untuk masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) siswa wajib memiliki ijazah madrasah diniyah atau Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA).
Hal tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan Bupati Tasikmalaya No. 421.2 /Kep.326A /Sos /2001 tentang persyaratan  memasuki Sekolah Dasar (SD/MI) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP/MTs) di Kabupaten Tasikmalaya yang isinya antara lain:
  1. Bagi anak-anak usia pra sekolah yang beragama Islam yang akan memasuki pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) atau yang sederajat diharuskan sudah memiliki kemampuan membaca Al-Quran.
  2. Kepada para siswa SD dan SLTP yang beragama Islam diharuskan untuk mengikuti pendidikan Sekolah Diniyah (Ula / Awaliyah dan Wustho).
  3. Bagi anak-anak yang beragama Islam yang telah lulus pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD/MI) atau yang sederajat yang akan melanjutkan se Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP/MTs atau yang sederajat) diharuskan sudah memiliki sertifikat / STTB/ Ijazah Madrasah Diniyah Awwaliyah.
B.     Definisi Operasional.
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam memahami maksud dari judul  skripsi ini Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa SD Negeri Padawening Di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah Dan DTA Al-Ittihad Kabupaten Tasikmalaya”, maka perlu dijelaskan istilah-istilah yang terkandung dalam judul di atas.
  1. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah proses, cara, perbuatan melaksanakan hasil rancangan atau keputusan (Depdikbud, 1993:488).  Menurut E. Mulyasa (2004:21) pelaksanaan adalah kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.  Adapun pelaksanaan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh ustadz/ustadzah sebagai pendidik dan siswa SD Negeri Padawening sebagai peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk mencapai pengetahuan dan meperoleh perubahan tingkah laku pada siswa.
  1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (Undang-Undang SISDIKNAS No.20 Tahun 2003:11).  Menurut Wina Sanjaya (2007:102) pembelajaran adalah proses pengaturan lingkungan yang diarahkan dalam rangka mengubah perilaku siswa ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa.
Sedangkan Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikannya sebagai pandangan hidup demi mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat (Zakiyah Daradjat, 2008:86).
Adapun pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam skripsi ini adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang meliputi tujuan, waktu, materi pembelajaran, metode, media dan evaluasi pembelajaran.
  1. Siswa SD Negeri Padawening
Siswa adalah murid, terutama pada tingkat Sekolah Dasar dan menengah.  Sedangkan murid adalah orang yang menuntut ilmu di Sekolah Dasar (Depdikbud, 1993:849).   SD Negeri Padawening ini adalah sebuah lembaga pendidikan dasar di bawah Departemen Pendidikan Nasional yang  berada di wilayah Desa Ciampanan Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya.  Adapun yang dimaksud siswa SD Negeri Padawening disini adalah siswa dari mulai kelas tiga sampai dengan kelas enam yang diwajibkan oleh SD Negeri Padawening untuk mengikuti Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang berada di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing.
  1. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah
Sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam di bawah Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang bekerjasama dengan SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam.  Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini menghimpun sebagian siswa SD Negeri Padawening sebanyak 16 siswa.  Letaknya berada sekitar 500 meter di sebelah utara SD Negeri Padawening.
  1. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah
Sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam di bawah Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang bekerjasama dengan SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam.  Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini menghimpun sebagian siswa SD Negeri Padawening sebanyak 25 siswa.  Letaknya berada sekitar 800 meter di sebelah timur SD Negeri Padawening.
  1. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al Ittihad
Sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam di bawah Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang bekerjasama dengan SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam.  Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini menghimpun sebagian siswa SD Negeri Padawening sebanyak 22 siswa.  Letaknya berada sekitar 500 meter di sebelah barat SD Negeri Padawening.
Dari uraian tersebut diatas dapatlah ditegaskan bahwa penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa SD Negeri Padawening Di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah Dan DTA Al-Ittihad Kabupaten Tasikmalaya” ini adalah penelitian untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Islam para siswa SD Negeri Padawening dari kelas tiga sampai dengan kelas enam yang di laksanakan di masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah yaitu di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah dan di DTA Al-Ittihad yang meliputi, tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran, sebagai suatu upaya dalam memberikan Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak sebagai pelengkap Pendidikan Agama Islam bagi para siswa Sekolah Dasar Negeri Padawening, agar para siswa dapat mengetahui, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik.
C.    Rumusan Masalah.
            Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah?
2.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Miftahus Sa’adah?
3.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Al-Ittihad?
D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian.
1.      Tujuan Penelitian.
a.       Untuk mengetahui dengan jelas tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.
b.      Untuk mengetahui dengan jelas tentang faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah dan di DTA Al-Ittihad.
2.      Manfaat Penelitian.
a.       Sebagai bahan informasi ilmiah bagi sekolah khususnya para guru, orang tua dan masyarakat tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.
b.      Sebagai bahan informasi ilmiah bagi para guru, orang tua dan masyarakat tentang faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.
c.       Menambah wawasan pengetahuan yang berharga bagi penulis, terutama dalam memahami pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.
E.     Tinjauan Pustaka.
            Tinjauan pustaka yang penulis lakukan ini bertujuan untuk menerangkan teori-teori, konsep, dan generalisasi yang relevan dan dapat dijadikan landasan teori dalam penelitian.
Abdullah Idi dan Toto Suharto dalam bukunya “Revitalisasi Pendidikan Islam” mengemukakan bahwa sebagai suatu proses bimbingan dan pembinaan, pendidikan Islam harus ditunjang oleh sebuah lingkungan yang dapat dijadikan tempat untuk melangsungkan proses pembelajaran.  Oleh karena itu pendidikan tidak akan pernah lepas dari tiga pusat pendidikan yang utama, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.  Karena ketiganya merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dan tidak mungkin terpisahkan.  (Abdullah Idi dan Toto Suharto, 2006 : 77)
Sejalan dengan ungkapan diatas, Langeveld dan Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dikutip Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati (2003 : 176) dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan bahwa terdapat 4 (empat) unsur pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan tempat-tempat Ibadah.
Abdul Majid dan Dian Andayani (2005:186-187) dalam bukunya “Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi” mengemukakan bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah perlu adanya keterpaduan sistem kerjasama antara sekolah dan guru-guru dengan orang tua, serta kerjasama antara sekolah dengan masyarakat.
Sebagai langkah-langkah dalam mewujudkan kerjasama pembinaan Pendidikan Agama Islam tersebut, menurut Abdul Majid dan Dian Andayani ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:
1.      Menekankan kepada siswa agar aktif belajar di mushalla masing-masing, pesantren yang menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam pada sore atau malam hari
2.      Mendatangi Ustadz-Ustadz di mushalla, pesantren untuk mengkomunikasikan rencana sederhana Pendidikan Agama Islam yang perlu mendapatkan pengembangan lebih lanjut kepada mereka
3.      Guru agama mengontrol kegiatan belajar Pendidikan Agama Islam di mushalla dan pesantren
4.      Mengkondisikan para siswa untuk mengikuti pendidikan di Madrasah Diniyah
5.      Khusus bulan Ramdhan para siswa diwajibkan mengikuti kegiatan bulan Ramadhan seperti tarawih, tadarus Al-Quran, dan kuliah subuh
6.      Mengadakan komunikasi dengan orang tua secara periodik baik dalam rapat formal maupun nonformal.
Dari penelaahan terhadap laporan penelitian (skripsi) sebelumnya, penulis menemukan telah banyak penelitian yang mengkaji pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga-lembaga non formal yang ada kaitannya dengan Pendidikan Agama di sekolah formal.  Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nardjo (2003) tentang “Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam”, studi komparatif antara siswa yang memiliki pengalaman pendidikan di madrasah diniyah dengan siswa yang tidak memiliki pengalaman pendidikan di madrasah diniyah pada siswa kelas IV SD Karang Kemiri”.  Pada pembahasannya membandingkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa yang memiliki pengalaman belajar Pendidikan Agama Islam di madrasah diniyah dengan siswa yang tidak memiliki pengalaman belajar di madrasah diniyah.
Selanjutnya Amalia Setiati (2008) yang mendeskripsikan penelitiannya dengan judul “Peranan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Baitul Hikmah sebagai penunjang keberhasilan Pendidikan Agama Islam di MIN Purwokerto”.  Mengkaji tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dalam menunjang keberhasilan Pendidikan Agama Islam di MIN Purwokerto.
Dari penelitian yang telah dilakukan tersebut, terdapat kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan.  Persamaannya ialah sama-sama melakukan penelitian terhadap lembaga pendidikan keagamaan non formal yang berada di masyarakat.  Adapun perbedaannya yaitu penelitian yang dilakukan ini lebih menekankan pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA), yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh ustadz/ustadzah dalam rangka mendidik, mengajar, membimbing dan mengarahkan para siswa Sekolah Dasar Negeri Padawening agar ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
F.     Metode Penelitian.
1.      Jenis Penelitian.
Penelitian yang penulis lakukan merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.  Hal ini didasarkan pada tempat penelitian sumber data yaitu DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.
Jenis data yang dicari adalah data kualitatif tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan oleh ustadz/ustadzah dan para siswa SD Negeri Padawening di masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran.
2.      Lokasi Penelitian.
Lokasi penelitian ini adalah tiga lembaga pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah yaitu DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah, dan DTA Al-Ittihad.
Adapun yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian di sekolah dan Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini antara lain:
a.       Diniyah Takmiliyah Awaliyah tersebut merupakan salah satu sekolah yang telah bekerjasama dengan SD Negeri Padawening, orang tua dan masyarakat dalam meningkatkan pendidikan agama anak didiknya dengan cara mewajibkan setiap peserta didiknya mengikuti pendidikan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) setelah pulang sekolah.
b.      Dengan segala keterbatasan, orang tua dan masyarakat yang sebagian besar adalah petani dan buruh, mampu mendirikan sebuah lembaga Diniyah Takmiliyah Awaliyah.  Bahkan rela mendatangkan serta memberikan fasilitas tempat tinggal dan biaya kepada Ustadz dan Ustadazah lulusan pondok pesantren dari luar desa maupun kecamatan, untuk mendidik dan mengajar di diniyah tersebut.
c.       Diniyah Takmiliyah Awaliyah tersebut mudah dijangkau oleh peneliti sehingga memungkinkan peneliti memperoleh data yang valid dan lengkap, sehingga proses pelaksanaan penelitian dapat efektif dan efisien baik dari segi tenaga, waktu dan biaya.
3.      Subjek dan Objek Penelitian.
a.       Subjek Penelitian.
1.      Kepala Diniyah Takmiliyah Awaliyah.
Dari kepala Diniyah Takmiliyah Awaliyah diperoleh informasi tentang sejarah berdirinya, letak geografis, visi dan misi masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah, keadaan pendidik, keadaan santri, struktur organisasi, kurikulum, sarana prasarana serta pelaksanaan gambaran umum pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah.
2.      Ustadz dan Ustadzah Diniyah Takmiliyah Awaliyah.
Dari Ustadz dan Ustadzah Diniyah Takmiliyah Awaliyah diperoleh informasi tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran, dan informasi tentang faktor pendukung dan penghambat serta upaya mengatasinya.
b.      Objek Penelitian.
Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah dan di DTA Al-Ittihad yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi yang digunakan oleh ustadz/ustadzah.
4.      Metode Pengumpulan Data.
Metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.       Metode Observasi (observation).
“Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian”(S.Margono, 2007:158).  Metode observasi ini digunakan untuk mengamati kondisi sosial dengan tujuan untuk mendapatkan data secara holistik (menyeluruh). Yaitu tentang kondisi lingkungan, fasilitas, letak geografis, hubungan antara ustadz/ustadzah dan siswa, serta proses pembelajaran di Diniyah Takmiliyah Awaliyah.
Observasi yang penulis lakukan adalah observasi partisipatif, yaitu peneliti melibatkan diri dalam kegiatan sehari-hari objek yang diobservasi.  Namun pada proses pelaksanaannya observasi yang dilakukan adalah observasi partisipasi moderat (moderate partisifation) yaitu peneliti datang ketempat kegiatan orang yang diamati, ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak ikut terlibat semuanya.
b.      Metode Wawancara (intrview).
Wawancara atau interview adalah alat pengumpulan data dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada responden untuk dijawab secara lisan pula. (Sugiyono, 2008 : 165)
Dalam pelaksanaannya, teknik yang digunakan adalah interview bebas terpimpin atau interview terkontrol, yaitu teknik interview yang memadukan antara interview terpimpin dengan interview bebas (tidak terpimpin) dimana hanya menggunakan pedoman wawancara berupa garis-garis besar atau kerangka permasalahan (frameework of question) yang akan ditanyakan, tetapi cara bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dan irama (timing) interview sama sekali diserahkan pada kebijakan interviewer.
Metode ini dilakukan langsung dengan Kepala Diniyah Takmiliyah Awaliyah untuk memeperoleh data tentang gambaran umum DTA, serta pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA.  Sedangkan kepada ustadz/ustadzah dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA secara lebih jelas tentang tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi yang digunakan.
c.       Metode dokumentasi.
 “Dokumen yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya”. (Suharsimi Arikunto, 2006:230)
Metode dokumentasi digunakan untuk mencari data yang berwujud dokumen, seperti data tentang sejarah sekolah, keadaan guru, siswa, dan karyawan, fasilitas sekolah, struktur organisasi, nilai ulangan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian, sehingga data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi lebih kredibel (dapat dipercaya).
5.      Uji Keabsahan Data.
Uji kebsahan data ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas data yang telah diperoleh.  Dalam menetapkan keabsahan data pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik uji kredibilitas (derajat kepercayaan).
Teknik yang dilakukan penulis dalam uji kredibilitas (derajat kepercayaan) data ini menggunakan beberapa teknik antara lain:
a.       Teknik triangulasi, yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dan berbagai cara atau teknik, dan berbagai waktu.  Untuk penelitian ini menggunakan cek silang data antara data dari Kepala DTA dengan ustad/ustadzah yang satu dan ustadz/ustadzah yang lain.  Juga dengan cara memadukan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi.
b.      Member Check, yaitu dengan cara pengecekan data yang telah diperoleh peneliti kepada pemberi data agar data yang telah diperoleh sesuai dengan apa yang telah diberikan pemberi data.
6.      Metode Analisis Data.
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif.  Bogdan dan Biklen sebagaimana dikutip Lexy J Moleong (2007:248) mengatakan bahwa analisis kualitaif adalah:
Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,           memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,            mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan        apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa           yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Dalam menggunakan analisis kualitatif tersebut, digunakan metode berpikir sebagai berikut:
a.       Metode Berpikir Induktif.
Metode berpikir indkutif adalah metode berpikir yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkret, kemudian dari fakta dan peristiwa yang khusus dan kongkret itu ditarik generalisasi yang bersifat umum. ( Sutrisno Hadi, 2004:47)  Metode berpikir induktif ini penulis gunakan untuk menganalisa data berupa uraian-uraian rinci dari sumber data tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. 
b.      Metode Berpikir Deduktif.
Metode berpikir dedukutif adalah “metode berpikir yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum dan dengan bertitik tolak pada pengetahuan yang umum tersebut kita hendak menilai sesuatu yang khusus”. ( Sutrisno Hadi, 2004:47).  Metode berpikir deduktif ini penulis gunakan untuk menguraikan data yang masih umum dari sumber data tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.
G.    Sistematika Penulisan.
Untuk mempermudah dalam memahami skripsi ini, penulis membaginya kedalam tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian utama dan bagian akhir.
Bagian awal meliputi:  halaman judul, pernyataan keaslian, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman persembahan, halaman motto, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, dan halaman daftar tabel.
Bagian utama merupakan pokok-pokok dalam skripsi ini yang penulis sajikan  kedalam lima bab yang meliputi:
Bab I adalah pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah,  definisi operasional,  rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sitematika penulisan.
Bab II menjelaskan teori-teori tentang pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang meliputi tiga sub bab yaitu : sub bab pertama tenatang  Pembelajaran yang meliputi pengertian, ciri-ciri, komponen-komponen serta faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran.  Sub bab kedua tentang Pendidikan Agama Islam yang meliputi pengertian Pendidikan Agama Islam, dasar-dasar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, tujuan dan fungsi Pendidikan Agama Islam, ruang lingkup Pendidikan Agama Islam, metode Pendidikan Agama Islam, serta media Pendidikan Agama Islam.  Sub bab ketiga tentang Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA), berisi tentang, pengertian Diniyah Takmiliyah Awaliyah, dasar pelaksanaan Diniyah Takmiliyah Awaliyah, tujuan Diniyah Takmiliyah Awwaliyah, kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah, pelaksanaan Pembelajaran Diniyah Takmiliyah Awaliyah, evaluasi Diniyah Takmiliyah Awaliyah.
Bab III meliputi tiga sub bab yaitu: sub bab pertama berisi tentang gambaran umum Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Amanah yang terdiri dari : sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, tujuan, keadaan ustadz/ustadzah dan santri, dan sarana prasarana.  Sub bab kedua tentang gambaran umum Diniyah Takmiliyah Awaliyah Miftahus Sa’adah yang terdiri dari : sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, tujuan, keadaan ustadz/ustadzah dan santri, dan sarana prasarana.  Sub bab ketiga tentang gambaran umum Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al-Itihad yang terdiri dari : sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, tujuan, keadaan ustadz/ustadzah dan santri, dan sarana prasarana.
Bab IV berisi penyajian dan analisis data yang meliputi dua sub bab yaitu sub bab pertama tentang penyajian data yang berisi tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah, dan di DTA Al-Ittihad.  Sub bab kedua tentang analisis data yang meliputi analisis data tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, analisis peranan DTA Miftahus Sa’adah, analisis peranan DTA Al-Ittihad.
Bab V  adalah penutup yang meliputi: kesimpulan, saran, dan kata penutup.  Sedangkan bagian akhir pada skripsi ini berisi tentang daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan daftar riwayat hidup.

PELAKSANAAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DI SMP NEGERI 1 BATURADEN KABUPATEN BANYUMAS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Degradasi moral merupakan wacana yang telah lama kita dengar, namun kenyataan sosial yang berkembang di masyarakat tentang timbulnya  dan semakin merebaknya dekadensi moral semakin menghawatirkan. Dimana menghormati, mengasihi, tolong menolong, kejujuran, kebenaran, toleransi, semakin terkikis dan tertutupi oleh kebohongan, menghasut, adu domba, penipuan, kekerasan dan perbuatan perbuatan negatif lainnya.
Dekadensi moral yang demikian itu lebih mengkhawatirkan lagi, karena tidak hanya melanda pada kalangan orang dewasa dalam berbagai profesi dan jabatanya, melainkan juga telah melanda anak muda khususnya para pelajar tunas-tunas muda yang diharapkan akan melanjutkan perjuangan membela kebenaran, keadilan dan perdamaian di masa mendatang.[1]
Sering kita mendengar atau melihat dari media masa maupun elektronik bertia yang menunjukan sikap yang tidak berlandas pada budi pekerti yang luhur dan telah banyak menimpa sebagian anak bangsa. Banyak timbul kejadian-kejadian negatif seperti korupsi, penjarahan, pembakaran, kekerasan, pembunuhan, pelanggaran hukum, pemerkosaan meningkatnya pecandu narkoba.

dan seks bebas, membuktikan bahwa bangsa Indonesia yang tadinya berbudi pekerti luhur, menjadi sirna.[2]
Secara eksplisit pendidikan budi pekerti sesungguhnya telah dilaksanakan pada saat seorang guru agama ketika mengajar pendidikan agama lewat pokok bahasan, materi akhlak, dan secara tidak langsung pendidikakan akhlak diberikan pada muatan materi pokok bahasan lainya. Seperti keimanan, ibadah, tarikh, dan lain-lain. Namun dalam pelaksanaan pendidikan akhlak yang dilaksanakan pada saat pendidikan agama, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian sehingga hasilnya belum optimal. Pertama, terlalu kognitif, pendekatan yang dilakukan terlalu berorientasi pengisian otak, memberi tahu mana yang baik dan mana yang jelek, yang sepatutnya dilakukan dan yang tidak sepatutnya, dan seterusnya. Kedua, problema yang bersumber dari peserta didik itu sendiri, yang berdatangan dan latar belakang keluarga yang beraneka ragam, yang sebagiannya ada yang sudah tertata dengan baik akhlaknya dirumah tangga masing-masing dan ada yang belum. Ketiga, terkesan bahwa tanggung jawab pendidikan agama tersebut terkesan berada dipundak guru agama saja. Keempat, keterbatasan waktu, ketidakseimbangan antara waktu yang tersedia dengan bobot materi pendidikan agama yang sudah direncanakan.[3]
Pelaku etika atau budi pekerti tidak akan cukup hanya diberikan sebagai pelajaran yang konsekuensinya hafalan atau lulus dalam ujian tertulis. Barangkali akan baik jika mata pelajaran yang biasanya ke arah kognitif itu di orientasikan pada pemberian alokasi waktu untuk mengajak anak didik mendiskusikan topik-topik atau bagian bagian dari apa yang disebut moral. Sedangkan prakteknya harus diukur dari kehidupan keseharian. Kelulusan anak didik tidak hanya dengan mengantongi nilai kategori lulus ujian tertulis mata pelajaran budi pekerti, namun harus dilihat kepribadian, tingkah laku sehari-hari.[4]
Secara tidak langsung memang pendidikan budi pekerti telah ditanamkan di dalam Pendidikan Agama Islam. Namun Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sering dianggap kurang berhasil dalam menggarap sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik serta membangun moral dan etika bangsa. Berbagai macam argumen yang dikemukakan untuk memperkuat stetemen tersebut antara lain adanya indikator-idikator kelemahan yang melekat pada pelaksanaan Pendidikan Agama di sekolah, yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: Pertama PAI kurang bisa merubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi "makna" dan "nilai" atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu di internalisasikan dalam diri peserta didik. Kedua PAI kurang dapat berjalan bersama dan bekerja sama dengan program-program pendidikan non agama. Ketiga PAI kurang memiliki relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat dan kurang ilustrasi konteks sosial budaya, atau bersifat

statis akontekstual dan lepas dari sejarah, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian.[5]
Tujuan daripada pendidikan agama (Islam) ialah keberagamaan peserta didik itu sendiri, bukan terutama pada pemahaman tentang agama dengan perkataan lain, yang diutamakan oleh pendidikan agama (Islam) bukan hanya knowing  (mengetahui tentang ajaran dan nilai-nilai agama) ataupun doing (bisa mempraktikan apa yang diketahui) setelah diajarkannya di sekolah, tetapi justru lebih mengutamakan being-nya (beragama atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama). Karena itu, pendidikan agama (Islam) lebih harus diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten (competence), tetapi sampai memiliki kemauan (will), dan kebiasaan (habit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.[6]
Pendidikan pada hakekatnya adalah berusaha untuk mewujudkan budi pekerti yang baik bagi setiap orang, karena pendidikan itu tertuju kepada pembentukan nilai, sedangkan pengajaran tertuju kepada pembentukan akal atau intelektual. Artinya, setiap ilmu pengetahuan yang sudah diketahui, dapat diwujudkan dalam perubahan yang baik atau moralitas yang baik.[7] Berkenaan dengan itu maka upaya untuk menegakan  akhlak mulia bangsa merupakan suatu keharusan mutlak. Sebab akhlak yang mulia akan menjadi pilar utama tumbuh dan berkembangnya peradaban suatu bangsa.[8]
Untuk mewujudkan dan sekaligus mendidik perilaku moralitas sosial, yang tidak dapat kita lupakan adalah lembaga Pendidikan kita, sekolah/madrasah. Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa (social investment), termasuk investasi untuk menancapkan perilaku sosial yang penuh dengan prakterk etika. Oleh karena itu,  lewat sekolah/madrasah, anak-anak kita dididik sekaligus dibiasakan untuk berperilaku yang etis dan menjunjung tinggi etika sosial di Negara tercinta Indonesia.[9]
 Mengingat pentingnya peranan sekolah dalam proses menciptakan peserta didik yang memilki budi pekerti luhur, maka perlu adanya suri teladan dari seluruh elemen yang ada di sekolah mulai dari Kepala sekolah, Guru, dan  penjaga sekolah dalam mempraktekan nili-nilai budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
SMP Negeri 1 Baturaden Kabupaten Banyumas merupakan Sekolah Menengah Pertama yang memiliki peserta didik yang notabene dengan penerapan nilai-nilai budi pekerti, adat dan budaya. Hal ini disebabkan karena letak geografis SMP 1 Baturaden yang berdekatan dengan wilayah wisata Baturaden. Sehingga penanaman nlai-nilai budi pekerti di sekolah ini sangat diperhatikan.


Dari latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian  lebih lanjut mengenai pelaksanaan pendidikan budi pekerti di  SMP Negeri 1 Baturaden Kabupaten Banyumas, karena sekolah tersebut merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama yang menggunakan berbasis budi pekerti. Hal ini sebagai upaya untuk mencetak generasi yang memiliki budi pekerti yang baik sesuai dengan nilai-nilai dalam agama. Sehingga siswa tidak hanya memiliki kecerdasan dalam hal kognitif saja tetapi juga mereka memiliki kecerdasan afektif  yang ditunjukan dalam tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Definisi Operasional
Untuk memperoleh gambaran yang jelas dalam memahami persoalan yang akan dibahas, dan untuk menghindari pengertian yang salah terhadap isi penelitian ini yang merupakan cerminan judul, penulis akan menguraiakan beberapa istilah  yang penting. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti
Pelaksanaan adalah kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencari tujuan secara efektif dan efesien.[10]
Jadi yang dimaksud dengan pelaksanaan disini adalah kegiatan melaksanakan apa yang sudah direncanakan guna mencapai tujuan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[11]
Secara etimologi, budi pekerti berasal dari dua kata, yaitu budi dan pekerti. Kata budi berarti nalar, pikiran atau watak. Sedangkan pekerti berarti penggawean, watak, tabiat atau akhlak.
Kata pekerti dari kata dasar kerti berarti perbuatan. Kata ini berasal dari akar kata kr berarti membuat. Jadi, budi budi bekerti berarti kesadaran perbuatan atau tingkah laku seseorang. Kedua unsur ini memiliki pertalian erat. Maksudnya, budi terdapat pada batin manusia, sifatnya yang kasat mata, tidak kelihatan. Budi seseorang baru tampak apabila seseorang telah melakukan sesuatu ke dalam bentuk pekerti.[12]
Budi pekerti yang dimaksud adalah penanaman dan pengembangan nilai, sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti luhur. Seperti: sopan santun, berdisiplin, bertanggung jawab, ikhlas, jujur dan lain sebagainya.
Pengertian budi pekerti dalam bahasa Inggris diartikan sebagai moralitas (morality), yang memiliki beberapa pengertian antara lain: adat istiadat, sopan santun dan perilaku. Namun secara hakiki pengertian budi pekerti adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku.[13] Dari sini dapat disimpulkan budi pekerti adalah kesadaran perbuatan atau tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
2.    SMP Negeri 1 Baturaden Kabupaten Banyumas
SMP Negeri 1 Baturaden adalah suatu lembaga pendidikan formal tingkat menengah pertama yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. Lembaga ini berada di wilayah Kecamatan Baturaden tepatnya di jalan Rempoah Barat.
Berdasarkan beberapa penegasan istilah tersebut di atas yang dimaksud dengan pelaksanaan pendidikan budi pekerti dalam penelitian ini adalah penelitian tentang proses mewujudkan nilai-nilai budi pekerti dalam diri peserta didik di SMP Negeri 1 Baturaden yang tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, sehingga tercipta perilaku yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: "Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden Kabupaten Banyumas?"


D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan  masalah, peneliltian ini bertujuan untuk mengetahui secara objektif dan analisis bagaimana pelaksanaan pendidikan  budi pekerti yang diterapkan di SMP Negeri Baturaden Kabupaten Banyumas.
2.      Manfaat Penelitian
a.       Memberikan informasi ilmiah tentang pelaksanaan pendidian budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden, yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pengelola pendidikan dalam mengembangkan pendidikan berbasis budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden Kabupaten Banyumas
b.      Meberikan stimulus bagi peningkatan kualitas dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden khususnya bagi guru budi pekerti dan guru PAI di SMP Negeri 1 Baturaden.
c.       Memberikan motivasi terhadap lembaga pendidikan lain dalam penerapan atau pelaksanaan budi pekerti sebagai salah satu solusi dalam menanggulangi degradasi moral.
d.      Bagi penulis dapat menambah pengetahuan tentang pelaksanaan pendidikan budi pekerti, dan menambah khasanah pustaka STAIN Purwokerto.


E.     Tinjauan Pustaka
Istilah budi pekerti dalam kajian Islam lebih dikenal dengan akhlak. Dalam Bahasa Indonesia istilah akhlak disepadankan dengan budi pekerti. Dalam bahasa Arab akhlak artinya tabiat, perangai, kebiasaan.
 Dalam pembahasan mengenai pendidikan budi pekerti kiranya belum begitu banyak yang membahas secara spesifik. Biarpun ada dengan menggunakan istilah moral atau akhlak. Hal itu karena akhlak sangat berkaitan dengan moral. Jika pengertian agama dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya tampak saling berkaitan dengan erat. Dalam konteks hubungan ini jika diambil ajaran agama, maka moral adalah sangat penting bahkan yang terpenting, dimana kejujuran, kebenaran, keadilan, dan pengabdian adalah diantara sifat-sifat yang terpenting dalam agama.
Menirut Fazlur Rahman sebagaimana ditulis Said Agil Husain AL Munawar dalam buku Aktualisasi Nilai-nilai Qur'ani Dalam Sistem Pendidikan Islam mengatakan bahwa:
"Inti ajaran agama adalah moral yang bertumpu pada keyakinan kepercayaan kepada Tuhan (habl min Allah) dan keadilam serta berbuat baik dengan sesama manusia (habl min al-Nas)".[14] Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hal yang terpenting dalam ajaran agama adalah pembentukan moral.
Dalam sebuah hadits Nabi dijelaskan juga bahwa Bu'istu li-utammima makarim al-akhlaq. (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia/memperbaiaki akhlak). Kalau kita perhatikan, memang banyak sekali nilai-nilai ajaran moral yang terkandung dalam Al-Qur'an maupun hadits, sebagai contoh: adil, ta'awun ala al-birr wa al-taqwa, benar, amanah, terpuji, bermanfaat, respect (menghargai orang lain), sayang, tanggungjawab, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan perilaku moralitas individu terhadap kehidupan sosial atau berdampak pada kehidupan sosial (beretika sosial). Dengan landasan nili-nilai ajaran Islam.[15] Dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Dalam konteks pendidikan, hadits dan ayat tersebut mengandung dua isyarat. Pertama bahwa tujuan utama pendidikan yang diajarkan  oleh Nabi Muhammad SAW, adalah pendidikan budi pekerti yang mulia (karimah) dan terpuji (mahmudah).  Tentu saja sumber budi pekerti disini adalah apa yang tertulis dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedua, dalam proses pendidikan budi pekerti itu, beliau tidak saja membuang tradisi yang dianggap sebagai perilaku yang baik menurut masyarakat setempat. Karena itulah beliau menggunakan istilah “menyempurnakan” bukan mengganti. Dapat disimpulkan bahwa ajaran budi pekerti beliau adalah “memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.”[16]
Peran pendidikan dalam pengembangan kualitas sumber daya insani secara mikro, sebagai proses belajar-mengajar alih pengetahuan (transfer of knowledge), alih metode (transfer of methodology), dan alih nilai (transfer of value). Fungsi pendidikan sebagai sarana alih pengetahuan dapat ditinjau dari "human capital"; bahwa pendidikan tidak dipandang sebagai barang konsumsi belaka tetapi juga sebagai investasi. Hasil investasi ini berupa tenaga kerja yang mempunyai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam proses produksi dan pembangunan pada umumnya. Dalam kaitan ini proses alih pengetahuan dalam rangka pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkembangnya manusia pembangunan. Dengan ilustrasi yang serupa proses alih pengetahuan ini juga berperan pada proses pembudayaan dan pembinaan iman, taqwa dan akhlak mulia.[17] Dari sini dapat disimpulkan bahwa peran pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan dari peserta didik namun juga memperhatikan dalam pembinaan budi pekerti agar nantinya dapat bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat.
Mawardi lubis dalam bukunya Evaluasi Pendidikan Nilai Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN, menyebutkan bahwa:
"ada dua aspek kegiatan yang menjadi inti dari pendidikan budi pekerti, pertama, membimbing hati nurani peserta didik agar berkembang lebih positif secara bertahap dan berkesinambungan. Hasil yang diharapkan adalah terjadinya perububahan kepribadian peserta didik dari semula egosentris menjadi altruis. Kedua, memupuk, mengembangkan, menanamkan nilai-nilai dan sifat-sifat positif ke dalam pribadi peserta didik. Bersamaan dengan proses pemupukan nilai-nilail positif ini, pendidikan budi pekerti berupaya mengikis dan menjauhkan peserta didik dari sifat-sifat dan nilai-nilai buruk."[18]

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi penekanan dalam pendidkan budi pekerti adalah untuk mengembangkan potensi-potensi peserta didik agar menjadi manusia yang baik.
Zakiah Darodjat sebagaimana yang ditulis oleh Mastuhu dalam bukunya Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam di Indonesia menyatakan bahwa:
"para pendidik harus selalu memikirkan moral, tingkah laku, dan sikap yang harus ditambahkan dan dibina pada anak didik. Ia tidak cukup sekedar menuangkan pengetahuan ke otak anak-anak, hanya memikirkan peningkatan ilmiah dan kecakapan anak-anak, dan meningkatkan ritus-ritus formal keagamaan semata. Bila pembinaan kepribadian dan moral agama tidak disertakan dalam pendidikan anak-anak, maka akan lahir manusia-manusia yang tinggi pengetahuannya namun mereka tidak dapat memberikan manfaat yang betul-betul kepada masyarakat. Karena mereka hanya akan memikirkan diri sendiri, menggunakan ilmunya untuk mencari keuntungan dan kesenangan diri-sendiri."[19]

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pendidikan budi pekerti tidak hanya tugas daripada guru agama dan budi pekerti saja, namun tanggung jawab semua guru mata pelajaran untuk melaksanakannaya. Semua guru dituntut untuk berupaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan, menumbuhkan kreatifitas, serta pengembangan skill siswa agar nantinya menjadi generasi yang berguna dan berbudi pekerti luhur.
Nurul Zuriah dalam bukunya Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Prespektif Perubahan memberikan kontribusi pikiranya dengan memberikan pemahamannya tentang pendidikan moral dan budi pekerti beserta detail pelaksanaannya, antara lain: hakekat dan subsatansi pendidikan budi pekerti, platform pendidikan moral dan budi pekerti, urgensi pendidikan budi pekerti dan Pkn di masa kini, menggagas pendidikan budi pekerti dimasa depan, dan sebagai orientasi praktis dibahas kurikulum berbasis kompetensi pendidikan budi pekerti.
Selain penelaahan terhadap buku-buku referensi, penulis juga melakukan penelaahan terhadap hasil-hasil penelitian yang ada. Sejauh peninjuan dan penelaahan yang penulis lakukan terkait dengan pelaksanaan pendidikan berbasis  budi pekerti belum ada. Penulis hanya menemukan kemiripan judul diantaranya:  Skripsi Saudara Nasum yang berjudul Akhlak Siswa Terhadap Guru di SMP Negeri 2 Jeruk Legi Cilacap, dalam kesimpulannya dikatakan bahwa akhlak yang dimiliki oleh siswa adalah tercermin melalui sikap yang tenang, serius dan rasa tanggungjawab yang tinggi ketika mengikuti setiap mata pelajaran tanpa harus memilih-milih atau membedakan salah satu mata pelajaran.[20]
Kemudian skripsi Saudara Rokhiman  yang berjudul Nilai-Nilai Moral dalam Pendidika Islam  skripsi ini menggambarkan tentang nilai moral yang bersumber dari Islam (Al-Qur'an) dan pandangan manusia pada umumnya tentang moral. Skripsi ini lebih banyak menyoroti tentang pendidikan Islam yang selama ini dipelajari lebih banyak mengandung tentang perbaikan atau pengembangan moral umatnya atau anak didiknya. Moralitas suatu golongan akan tercermin dari sejauh mana golongan tersebut memahami akan ajaran agamanya semakin dalam memahami ajaran agama, semakin baik akhlaknya (moral) golongan tersebut. Begitu juga sebaliknya, ketika pemahaman agamanya kurang maka akhlak (moralitas) akan sangat memperihatinkan.[21]
Selain itu juga skripsi Saudara Ulul Huda yang berjudul  Penciptaan Tradisi Religious di SMP PGRI Baturaden hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa penciptaan tradisi religious di SMP PGRI Baturaden telah melibatkan semua tenaga kependidikan (kepala sekolah, dewan guru, dan karyawan). Masing-masing komponen tersebut melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kedudukanya. Kepala sekolah senantiasa berkomunikasi dan bekerjasama dengan komite sekolah, guru-guru non agama menyisipkan nilai-nilai akhlakul karimah yang sesuai dengan materi yang sedang dibahas maupun yang terlepas dari materi. Para karyawan memberikan tauladan yang baik dan memberikan pengawasan terhadap para peserta didik di sekolah.[22]
Bedanya dengan topik diatas, skripsi ini penulis lebih memfokuskan pada bagaimana pelaksanaan pendidikan budi pekerti yang dilakukan oleh sekolah sebagai upaya untuk menciptakan peserta didik yang memiliki budi pekerti luhur yang tercrmin dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penelitian yang akan penulis lakukan belum pernah ada dan sangat berbeda dengan penelitian yang sudah ada.



F.     Metode Penelitian
1.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif. Yaitu suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yakni keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.[23]
Dalam hal ini penulis berupaya menggambarkan tentang bagaimana pelaksanaan pendidikan budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden Kabupaten Banyumas.
2.    Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis mengambil lokasi di SMP Negeri 1 Baturaden. Penulis merasa tertarik memilih lokasi ini karena SMP ini terletak di daerah wisata baturaden, yang kiranya perlu adanya perhatian khusus pada peserta didiknya agar selalu menjaga budi pekerti dalam bersikap dan bertindak. Selain itu sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah di bawah nauangan Departemen Pendidikan Nasional yang menerapkan pendidikan berbasis budi pekerti dalam pelaksanaan pendidikanya.
3.    Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah:
a.  Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan dalam penerapan  pendidikan budi pekerti.     
b. Guru Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti
Guru mata pelajaran pendidikan budi pekerti sebagai subjek penelitian untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pendidikan budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden. Namun tidak menutup kemungkinan penulis melakukan wawancara dengan guru lain untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.
4.    Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah pelaksanaan pendidikan budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden
5.    Metode pengumpulan data
Metode yang digunakan untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan penelitian ini adalah:
a.    Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki.[24] Dalam menggunakan metode ini, penulis turun lansung kelapangan serta mengamati secara langsung bagaimana pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden baik itu di kelas maupun di luar kelas. Hasil dari pengamatan itu penulis catat sesuai dengan kata-kata penulis sendiri. Selain itu penlis juga mencatat apa-apa yang sekiranya mendukung terhadap penelitian ini. Seperti keadaan di lingkungan sekitar sekolah dan situasi pada saat pembelajaran berlangsung.
b.   Metode Interview
Interview sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Metode wawancara mendalam (deep interview), yaitu pertemuan langsung dengan nara sumber (kepala sekolah dan guru budi pekerti) secara berulang-ulang untuk mendapatkan berbagai data penjelasan utuh dan mendalam darinya.
Dalam penelitian ini, metode tersebut digunakan sebagai media pokok untuk mendapatkan data primer dari pendidik. Interview yang digunakan dalam metode ini adalah interview bebas terpimpin yaitu model wawancara dengan memepersiapkan lebih dulu pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada informan (interliview gude), namun cara penyampaian pertanyaan tersebut dilangsungkan secara bebas.[25]
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang Pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden. Penulis melakukan wawancara dengan kepala sekolah terkait dengan kebijakannya menerapkan Pendidikan Budi Pekerti di sekolah tersebut.  sedangkan untuk guru budi pekerti metode ini digunakan untuk mengetahui proses pelaksanaan pendidikan budi pekerti secara menyeluruh baik ketika pembelajaran maupun di luar pembelajaran.
c.    Metode Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis.[26] Di dalam melakukan metode dokumentasi, peneliti melakukan peninjuan benda-benda tertulis seperti dokumen sekolah, Buku RP dan Silabus mata pelajaran Budi Pekerti,  peraturan-peraturan sekolah dan sebagainya.
Penggunaan metode ini untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya lembaga, visi misi, tujuan dan letak geografis SMP Negeri 1 Baturaden, struktur organisasi, keadaan guru, karyawan, siswa, sarana dan prasarana serta dokumen lain yang diperlukan.
6.    Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data kualitatif, maksudnya adalah penulis menggabungkan data-data yang satu  dengan yang lainnya kemudian penulis menuangkan hasilnya dengan bentuk kata atau kalimat sendiri.  Sesuai dengan tujuan penelitian yang akan di capai, maka teknik analisis data dalam penelitian ini adalah:
a.    Deskriptif analisis, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan.[27] Metode ini penulis gunakan untuk menyimpulkan data dan menganalisis data yang telah terkumpul.
b.    Metode berfikir induktif, adalah proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi, menuju pada suatu teori. Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah-pisah menjadi satu rangkaian hubungan atau suatu generalisasi.[28] Metode ini penulis gunakan untuk menganalisis data kaitanya dengan pelaksanaan pendidikan budi pekerti dan faktor-faktor pendukung dan penghambatnya di SMP Negeri 1 Baturaden.

G.    Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang menyeluruh terhadap skripsi ini, maka perlu dijelaskan bahwa skripsi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:
Pada bagian awal skripsi ini berisi halaman judul, halaman pernyataan keaslian, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi, dan daftar tabel.
Bagian kedua memuat pokok-pokok permasalahan yang termuat dalam bab I sampai bab V
BAB 1 berisi pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, definisi operasional, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II berisi tentang landasan teori yang berkaitan dengan pendidikan budi pekerti yang membahas masalah-masalah antara lain: pengertian budi pekerti, tujuan pendidikan budi pekerti, nilai dan sifat-sifat Budi Pekerti, ciri-ciri pendidikan budi pekerti, urgensi pendidikan budi pekerti, metode dan model penyampaian budi pekerti serta pelaksanaan pendidikan budi pekerti.
BAB III berkaitan tentang gambaran umum SMP Negeri 1 Baturaden yang meliputi: letak geografis, sejarah singkat berdirinya SMP Negeri 1 Baturaden, visi, misi dan tujuan SMP Negeri 1 Baturaden, struktur oganisasi SMP Negeri 1 Baturaden, keadaan guru, siswa dan karyawan, sarana dan prasarana SMP Negeri 1 Baturaden, serta budaya SMP Negeri 1 Baturaden.
BAB IV Penyajian dan Analisis data yang yang merupakan inti dari skripsi ini yaitu tentang pelaksanaan pendidikan budi pekerti serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti di SMP Negeri 1 Baturaden.
BAB V adalah penutup, dalam bab ini akan disajikan kesimpulan, saran-saran yang merupakan rangkaian dari keseluruhan hasil penelitian secara singkat.
Bagian ketiga skripsi ini merupakan bagian akhir, yang didalamnya akan disertakan pula daftar pustaka, daftar riwayat hidup dan lmpiran-lampiran yang mendukung.


[1] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan  Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia  (Jakarta: Kencana, 2003), hlm. 189.
[2] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia  (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 217.
[3] Ibid., hlm. 220.
[4] A. Qodri A. Azizy, Pendidikan Agama Untuk Membangun Etika Sosial  (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003), hlm. 109.

[5]Muhaimin,  Nuansa Baru Pendidikan Islam Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006),  hlm. 124.
[6]Ibid, hlm. 147.
[7]Marasudin Siregar, Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun, Suatu Analisa Fenomenologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 161.
[8]Said Agil Husain Al Munawar,  Aktualisasi Nilai-Nilai Al-Qur'an dalam Sistem Pendidikan Islam  (Ciputat: PT. Ciputat Press, 2005), hlm. 25.
[9]A. Qodri A. Azizy, Op Cit, hlm. 86.
[10]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah  (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 21.
[11]UU RI No. 20 tahun 2003 (Bandung: Citra Umbara, 2006), hlm. 72.
[12]Suwardi Endraswara, Budi Pekerti dalam Budaya Jawa (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2003), hlm.1.

[13]Furqon Hidayatullah, M, Mengabdi Kepada Almamater Mengantar Calon Pendidik Berkarakter di Masa Depan  (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2007), hlm. 91.
[14] Said Agil Husain Al Munawar, Op. Cit., hlm. 29.
[15]A. Qodri A. Azizy, Op. Cit., hlm. 81-82.
[16]Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam (Kencana Prenada Media,  Jakarta: 2006 ), hlm. Xv.
[17]Said Agil Husain Al Munawar, Op. Cit., hlm. 11-12.
[18]Mawardi lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN  (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2008), hlm.ix.
[19]Mastuhu, Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam di Indinesia  (Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 106.
[20]Nasum, Akhlak Siswa Terhadap Guru di SMP Negeri 2 Jeruk Legi Cilacap, Skripsi, STAIN Purwokerto, tidak diterbitkan, 2007.
[21]Rokhiman,  Nilai-Nilai Moral Dalam Pendidikan  Islam, Skripsi, STAIN Purwokerto, tidak diterbitkan, 2001.
[22]Ulul Huda, Penciptaan Tradisi Religious di SM PGRI Baturaden , Skripsi, STAIN Purwokerto, tidak diterbitkan, 2007.
[23] Suharsimi Arikunto, Manejemen Penelitian  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 234.
[24] Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian Petunjuk Prkatis untuk Peneliti Pemula (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), hlm. 69
[25] Suharsimi Arikuknto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 155-156.
[26] Ibid, hlm. 158
[27]Saefudin Azwar, Metode Penelitian, hlm. 6.
[28] Ibid., hlm. 40.